Sabtu, 18 Desember 2010

Natal

Saudara-saudara apakah ada di antara anda yang belum pernah menunggu ?

Apakah anda pernah menantikan sesuatu ? Apakah ada bedanya antara menantikan kedatangan teman yang kita tunggu-tunggu, pacar misalnya, dengan menantikan datangnya PHK ? Menanti kedatangan pacar maupun menantikan kedatangan saudara di bandara akan kita nantikan dengan berdebar dan penuh harap. Ada harapan, bagaimana nanti bila bertemu, bagaimana wajah saudara kita, bagaimana kisah pacar atau saudara tersebut ? Tentu kita akan dengan semangat menunggu.




Lain halnya apabila kita menunggu rekan bisnis atau murid yang harus datang les pada jam tertentu. Apabila kita berjanji bertemu pada pukul 16.00 sore dan sampai jam 17.00 belum juga datang, kita akan merasakan bahwa penantian, menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan. Paling-paling, kita hanya akan bertemu dengan rekan bisnis yang itu-itu saja, atau dengan murid yang bodoh, dengan client yang sok tahu, dll. MIsalkna, kita berjanji bertemu pukul 19.00 di sebuah restoran, dan kita datang tepat waktu, kita akan merasa membuang waktu menunggu lebih dari 15 menit di restoran, sendirian!!!

Hari jumat yang lalu, saya ikut melihat kirab pusaka dan kirab kerbau Kyai Slamet. Sejak pukul 22.00, saya berangkat dari rumah. Di sekitar keraton Kasunanan sudah terasa keramaian. Banyak orang datang dari daerah sekitar Solo untuk mengikuti kegiatan ini. Mulai dari alun-alun utara, siti hinggil, sampai ke bagian tengah keraton. Banyak orang yang datang ingin menyaksikan. Sekali lagi, semua manusia di sekitar saya, melakukan kegiatan yang dianggap paling membosankan di dunia yaitu menunggu. Kita semua di sana menunggu datangnya kerbau Kyai Slamet untuk berjalan mengawali prosesi. Kerbau kok ditunggu, tentu saja Kerbau tidak memiliki jam seperti manusia. SEmauanya sendirilah, kapan mau berangkat. Dalam keramaian seperti itu, ada saja orang yang berupaya memaknai penantian dengan bercerita dengan teman sebelah, atau memancing orang di sekitarnya agar berkonsentrasi. Sebentar-sebentar muncul suara yang diikuti gemuruh orang yang bersiap-siap menyambut “Kae kebone wis teko”. Tindakan semacam itu membuat konsentransi orang berubah dan menjadi ramai, mengikuti seruan-seruan tersebut. Saya sendiri juga masuk dalam situasi semacam itu, situasi harap-harap cemas. Sama seperti semua orang yang ada di sana. Ada yang sudah bersiap denga pakaian jawa, dengan foto di tangan, dengan posisi di sekitar janur yang akan segera diperebutkan begitu Kyai Slamet melewatinya. Semua memiliki tujaun sendiri-sendiri dalam penantian tersebut. Orang yang seperti saya, yang sekedar ingin mengikuti dan melihat suasana, lama lama terpengaruh juga. Saya bertanya, yang saya nanti itu siapa ? Kyai Slamet, Kirab Pusaka ? Atau Janur yang siap diperbutkan ? Saya kira, yang mengalami hal seperti itu pastilah bukan hanya saya. Saya melihat bahwa malam itu, tumplek bleg warga Solo di sekitar saya. Mereka semua pasti juga memiliki sendiri apa yang dinantikan. Apa itu yang dinantikan ?

Di sela-sela penantian tersebut ? saya mencoba bekeliling, menyapa, mengajak ngobrol orang di sekitar saya, mereka ramah. Ada sepasang pemuda-pemudi yang kelihatan tidak dari SOLO, terlihat dari bahasa Indonesia yang mereka gunakan. Yang perempuan kelihatannya dari Sekitar SOlO, atau tahu prosesi itu, sedangkan yang lelaki dari luar SOLO, saya simpulkan dari pertanyaan yang diajukan. Dia menyatakan “ apa yang ditunggu ? bukankah kyai slamet itu hanyalah kerbau albino ? orang-orang bodoh, begitu katanya”, tetapi yang perempuan mengatakan “ mereka tidak bodoh, hanya belum tahu saja”. Bagi saya, kedua orang tersebut masih dalam jajaran orang yang sama-sama menanti, tetapi memaknai berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka menganggap yang lain bodoh dengan interpretasi yang lain. Bagi kita semua, nampak bahwa semua tetap memiliki latar belakang, motivasi dalam menanti. Perbedaan motivasi tidak menghalanig orang menanti suatu peristiwa yang sama.

Sekarang kita juga ada dalam situasi yang sama. Masa Natal dimulai dengan masa penantian, masa adven. Dalam masa adven, sudah mulai dianntisipasi kedatangan Yesus, lewat renungan yang kita lakukan setiap minggu. Di sisi lain, pihak industri juga memanfaatkannya dengan momen diskon besar-besaran, dengan lagu natal, dengan hiasan natal, suasana natal, segala atribut yang dicantumkan sama dengan natal. Dengan semua itu, kita menjadi yakin bahwa kita akan menyambut natal. Natal menjadi semakin menarik karena banyak orang yang menantikannya, mensituasikannya, dan memberikan tawaran kegembiraan. Di tengah segala gegap gempita semacam itu, tentu saja, kita bisa menjadi seperti di tengah kirab Kyai Slamet itu, lupa tentang maksud penantian kita, terlarut dengan segala kegembiraan yang ditawarkan menjelang datangnya hari natal. Selalu, setiap perayaan mengandung lupa akan apa yang sebenarnya dirayakan sehingga tak ada gregetnya lagi.

Masih ingatkah anda dengan sabda Yesus kepada Maria dan Martha ? Yesus mengatakan bahwa Maria, engkau sibuk dengan perkara-perkara lain, tetapi saudarimu Martha telah mendapatkan apa yang dia harapkan. Seringkali, perayaan, pesta membuat kita sibuk, benar-benar sibuk pada persiapan. Kita sibuk sehingga lupa, untuk apa semua kesibukan itu patut kita tanggung ? Mengapa kita harus sibuk ? Begitu juga dengan perayaan Natal. Natal menjadi sesuatu yang menyibukkan, hadiah, pohon, baju baru, masakan, tetapi lupa, mengapa kita harus berpesta merayakan kehidupan ini ? untuk apa itu semua persiapan itu layak ditanggung ?

Satu hal yang bisa dijadikan jawaban tentu saja adalah Harapan. Hal ini tentu menjadi modal orang melakukan penantian. Orang mengharapkan akan terjadi sesuatu yang lebih baik, potensi lebih terbuka. Penantian menjadi layak ditanggung karena adanya harapan. Natal menawarkan harapan, harapan semacam apa ? kita semua memiliki pengalaman tersendiri tentang Natal dan harapannya di dalamnya. Harapan Natal adalah Harapan Keselamatan. Kembali, wah susah frater, keselamatan itu seperti apa to ? Kok sulit ?

Keselamatan yang ditawarkan sebagai harapan adalah keselamatan seperti yang ada dalam surat kepada Rasul TITUS bab 3 ayat 4-7. Di situ ditandaskan, begitu besar anugerah keselamatan. KEselamatan di situ, bukan karena jasa manusia kemudian keselamatan diberikan kepada manusia, melainkan kasih ilahi itu sendiri yang membawa manusia kepadaNya. Keselamatan itu seringkali kit abaca sebagai suatu hadiah atas amal baik kita, tetapi bukan semacma itu keselamatan Allah.

Apakah bila kita melakukan hukum Allah, kemudian kita bisa masuk Surga. Apakah Allah perlu disogok dengn perbuatan baik kita ? apa perlulnya bagi Allah ? tidak ada. Kebaikan kita, perbuatan baik kita bukanlah akumulasi sebab kita bisa masuk ke dalam Surga. Bila Allah memperkenankan, kitapun bisa seperti penjahat di sebelah Yesus yang pada saat itu juga diajak oleh Yesus menuju kerajaanNya. Keselamatan yang Cuma-Cuma, itulah yang ditawarkan dengan kedatangan Yesus.

Natal merayakan kedatangan Yesus sama dengan pengharapan akan keselamatan Cuma-Cuma yang akan hadir bersama dengan penerimaan akan Yesus. Sama seperti sepasang muda-mudi yang tidak tahu makna perebutan janur dan penantian Kyai Slamet dalam Kirab 1 Suro, Keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus akan menjadi berita basi dan isapan jempol belaka apabila tidak dimaknai. Seorang peziarah Suro mengatakan bahwa Khasiat Janur akan mulai apabila dilewati Kyai Slamet, maka perebutan janur sebelum kyai slamet lewat, tidak akan bermakana apapun. Tanpa harus menyalahkan, kita dapat melhiat bahwa demikianpun dengan kita. Ajakan refleksi ini akan mental dan tak berguna apabila semua tinggal menjadi tindakan mekanis bahkan tak disadari. Perayaan Natal adala perayaan untuk semakin menyadari diri kita, Keselamatan apakah yang telah aku terima dan patut kusyukuri ? Keselamatan apakah yang aku nantikan untuk kuterima dalam perayaan Natal kali ini ? 

2 komentar: